REVISI STANDAR ISI, SKL, PROSES DAN PENILAIAN ?

Revisi kurikulum yang terjadi kali ini menyangkut empat standar nasional pendidikan terkait, yakni standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses dan standar penilaian. Revisi empat standar ini tentu saja akanberkaitan dengan standar yang lain, misalnya standar sarana dan pengelolaan.

Standar isi mengarahkan agar di kelas-kelas permulaan (SD) guru mampu memahami dan menerapkan pembelajaran yang holistik-integratif yang berfokus pada alam, sosial dan budaya.Di SMP kembali ditegaskan bahwa IPA dan IPS masing-masing diajarkan secara terpadu.
Pada standar proses, harapannya, guru mampu melakukan pendekatan sains dalam pembelajaran. Proses pembelajaran yang semula fokus pada kegiatan eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, kini diharapkan guru mampu membawanya ke ranah yang lebih ilmiah berbau riset melalui langkah-langkah kegiatan mengamati, bertanya, lalu mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan dan mencipta. Adapun kompetensi sikap yang perlu diimbaskan ke siswa seharusnya tidak melalui penjelasan melainkan melalui contoh keteladanan yang dilakukan guru.
Standar penilaian tidak hanya berkutat untuk pengukuran kemampuan kognisi siswa, karena yang wajib diukur adalah kompetensi (yang merupakan kompilasi dari kognisi, skill/keterampilan dan sikap). Penilaian yang dilakukan mestinya benar-benar otentik mengukur kompetensi siswa (authentic assessment) yang dilakukan lewat proses dan hasil yang ingin dicapai. Oleh karena itu, dipandang perlu menganalisis portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama penilaian.
Untuk standar kompetensi lulusan perlu kembali ditegaskan bahwa fokus yang perlu dicapai ada tiga kata kunci yakni kemampuan, watak dan kecerdasan.Itulah fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (Sisdiknas).
Beragam tanggapan atas wacana revisi kurikulum ini mewarnai dunia pendidikan kita hari ini.Sikap pro-kontra tak bisa dilepaskan.Bahwa kekhawatiran kalangan tertentu ada yang tertuju kepada guru. Opini yang berkembang mengatakan, jika guru tidak disiapkan, maka dikhawatirkan kebijakan revisi ini akan menuai masalah.
Di sinilah tantangan itu dialamatkan kepada guru.Pelatihan bagi guru merupakan keniscayaan yang harus dibuat oleh pemerintah (pusat dan daerah). Jika implementasi Kurikulum 2013 ini mulai pada tahun pelajaran yang akan datang, maka sosialisasi dan diklat bagi guru bersifat mendesak meskipun penerapan kurikulum ini dilakukan secara bertahap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s